Di zaman yang serba canggih sekarang ini, kebutuhan dalam bidang apapun semakin meningkat. Sebagai contoh misalnya hampir setiap orang memiliki sepeda motor. Hal itu dikarenakan di jalan manapun pasti sering terjadi kemacetan. Walaupun setiap orang mendambakan memiliki mobil idaman, tetapi bagiku tidak. Karena bagiku sepeda motor memiliki kelebihan yang tidak kalah dengan mobil. Pada saat kemacetan sering terjadi dimana-mana dengan menggunakan sepeda motorlah aku bisa sampai di tempat tujuan dengan tepat waktu. Sebagai seorang pria aku sangat menyukai berbagai hal di bidang otomotif.Banyak hal yang bisa aku pelajari karena hobbyku ini, diantaranya Aku bisa merawat dan memperbaiki motorku sendiri. Mengganti oli, membersihkan karburator, bahkan membenarkan piston adalah sebagian contoh yang biasanya aku lakukan sendiri. Aku sangat bersyukur karena dengan kebisaanku ini aku bisa melakukan hal-hal kecil untuk motorku tanpa sedikit-sedikit aku harus pergi ke bengkel.
Awal Aku bisa memiliki motor ini karena Aku merasa sekolahku (SMA) memiliki jarak yang cukup jauh dari rumah. Angkutan Umum adalah alternatif lain untuk dapat sampai ke sekolahku tetapi biasanya memakan waktu yang cukup lama apabila menggunakan angkutan umum ini. Sekitar 50 menit itulah waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sekolahku dengan menggunakan angkutan umum. Hal inilah yang membuatku sering datang terlambat ke sekolah sehingga sering mendapat hukuman dari guru-guru disekolahku. Keterlambatan membuat aku sering mendapat surat panggilan untuk orang tua. Sejak saat itulah Aku di belikan motor oleh kedua orang tuaku. Sungguh senang hatiku saat itu. Sejak saat itu Aku sudah tidak pernah datang terlambat lagi ke sekolah begitu juga dengan orang tuaku yang sudah tidak pernah mendapatkan surat panggilan.
Tentu tidak heran apabila motor ini menjadi barang yang sangat Aku sayangi. Di samping perawatannya yang mudah dan hemat waktu, biaya yang dibutuhkan pun seperti bensin, oli, servive, bahkan sparepart sangat bersahabat dengan kantongku.
Senin, 04 Januari 2010
Pantun Cinta
buat apa punya mata
kalau tidak curi pandang
buat apa ada cinta
kalau bukan karena sayang
pisau tajam pisau belati
belinya di pasar pagi
kenapa cinta harus di khianati
kalau memang saling mencintai
jalan jalan ke jeddah
jangan lupa beli markisa
cinta itu memang indah
kalau memang ada rasa
melihat ular melingkar-lingkar
melihat air di atas dahan
mengapa kita harus bertengkar
kalau memang ingin bertahan
kalau tidak curi pandang
buat apa ada cinta
kalau bukan karena sayang
pisau tajam pisau belati
belinya di pasar pagi
kenapa cinta harus di khianati
kalau memang saling mencintai
jalan jalan ke jeddah
jangan lupa beli markisa
cinta itu memang indah
kalau memang ada rasa
melihat ular melingkar-lingkar
melihat air di atas dahan
mengapa kita harus bertengkar
kalau memang ingin bertahan
Kau Segalanya Bagiku
kau telah membangkitkanku dari keterpurukan
setelah sekian lama ku terluka oleh cinta
kini kau hadi sembuhkan luka itu
mengisi hari-hariku penuh dengan cinta dan kasih sayang
hari-hariku begitu indah bersamamu
hari-hariku lebih terarah karena kehadiranmu
rasa sayangku semakin bertambah
karena kamu ada di sisiku
sayangku hanya untukmu
aku harap kamupun begitu
aku tak sanggup kehilanganmu
karena engkau adalah segalanya bagi hidupku
setelah sekian lama ku terluka oleh cinta
kini kau hadi sembuhkan luka itu
mengisi hari-hariku penuh dengan cinta dan kasih sayang
hari-hariku begitu indah bersamamu
hari-hariku lebih terarah karena kehadiranmu
rasa sayangku semakin bertambah
karena kamu ada di sisiku
sayangku hanya untukmu
aku harap kamupun begitu
aku tak sanggup kehilanganmu
karena engkau adalah segalanya bagi hidupku
Kamis, 10 Desember 2009
Arti Pahlawan 10 November
Peristiwa sejarah perang antara Indonesia dan Belanda terjadi pada tanggal 10 November. Tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa tepatnya pada tanggal 1 Maret 1942. Pada tanggal 8 Maret 1942 pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sejak saat itulah, Indonesia diduduki oleh Jepang.
Pada bulan Agustus 1945 tepatnya tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebelum dilucuti oleh sekutu, rakyat dan para pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Sejak saat itulah timbul pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah di Indonesia. Pertempuran itu adalah suatu bentuk pergerakan dari rakyat dan para pejuang Indonesia untuk membela tanah air tercinta. Pada tanggal 15 September 1945 ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar tentara Inggris mendarat di Jakarta. Pada 25 Oktober 1945 kemudian mendarat di Surabaya. Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi, selain itu, tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pun membonceng. Itulah yang meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di mana-mana.
Di Surabaya, dikibarkannya bendera Belanda, Merah-Putih-Biru, di Hotel Yamato, telah melahirkan Insiden Tunjungan, yang menyulut berkobarnya bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan badan-badan perjuangan yang dibentuk oleh rakyat. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya, memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober.
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga telah dibentuk.
Selain itu, banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar. Badan-badan perjuangan itu telah muncul sebagai manifestasi tekad bersama untuk membela republik yang masih muda, untuk melucuti pasukan Jepang, dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda (yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia).
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30 000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang.
Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.
Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.
Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama' serta kiyai-kiyai pondok jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kiyai-kiyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kiyai)juga ada pelopor muda seperti bung tomo dan lainnya. sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris.
Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_10_November
Pada bulan Agustus 1945 tepatnya tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebelum dilucuti oleh sekutu, rakyat dan para pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Sejak saat itulah timbul pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah di Indonesia. Pertempuran itu adalah suatu bentuk pergerakan dari rakyat dan para pejuang Indonesia untuk membela tanah air tercinta. Pada tanggal 15 September 1945 ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar tentara Inggris mendarat di Jakarta. Pada 25 Oktober 1945 kemudian mendarat di Surabaya. Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi, selain itu, tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pun membonceng. Itulah yang meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di mana-mana.
Di Surabaya, dikibarkannya bendera Belanda, Merah-Putih-Biru, di Hotel Yamato, telah melahirkan Insiden Tunjungan, yang menyulut berkobarnya bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan badan-badan perjuangan yang dibentuk oleh rakyat. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya, memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober.
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga telah dibentuk.
Selain itu, banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar. Badan-badan perjuangan itu telah muncul sebagai manifestasi tekad bersama untuk membela republik yang masih muda, untuk melucuti pasukan Jepang, dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda (yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia).
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30 000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang.
Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.
Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.
Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama' serta kiyai-kiyai pondok jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kiyai-kiyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kiyai)juga ada pelopor muda seperti bung tomo dan lainnya. sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris.
Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_10_November
Sabtu, 28 November 2009
Cerpen: Kerikil-kerikil Cinta
Betapa berat melepas gadis itu, bagaimanapun juga Sheila sangat berarti dalam kehidupannya. Gadis itu membawa perubahan besar dalam hidupnya. Dan kini haruskah ia lepas?
Sheila dan Ardi tertegun di depan pintu, saat tiba-tiba saja seisi ruangan menghentikan aktivitasnya main band dan menatap tajam ke arah mereka berdua. Dengan kikuk Sheila mencoba tersenyum
dan segera duduk di kursi yang tersedia di sudut
ruangan. Adi langsung mengambil gitar yang tergeletak di samping Citra.
“Kenapa berhenti? Kalian marah karena aku datang
terlambat? Kita bisa mulai lagi kan?”
Ardi mulai memetik gitar dan memainkan intro sebuah lagu. Saat sadar teman-teman yang lain tidak mengimbangi permainannya. Ardi hanya tersenyum kecil. Ia paham mereka pasti kecewa karena dia datang terlambat.
“Dua jam tidak bisa dikatakan terlambat lagi. Aku
kecewa padamu. Demi seorang cewek kau mengorbankan waktu latihan kita! Sejak bersama Sheila kau mengesampingkan grup band kita. Dan kau seenaknya saja bilang terlambat!” celetuk Prast panjang lebar dengan nada sinis.
Sheila terkejut mendengar ucapan Prast yang tidak ia sangka. Aris, Citra, dan Agus yang berada di ruangan itu juga tampak terkejut mendengarnya. Muka Ardi merah padam, sedetik kemudian ia meletakkan gitarnya dan meninggalkan studio latihan. Anak-anak yang lain segera keluar menyusul. Sheila masih terpaku di tempatnya.
Prast terlihat memainkan stick drum-nya tanpa
ekspresi sedikit pun. Seolah-olah apa yang baru saja dikatakannya, sama sekali tidak membuat telinga merah. Sheila merasa kecewa sekali dengan ucapan Prast tadi. Tidak seharusnya Prast mempermalukan Ardi di hadapan anak-anak. Seharusnya cowok itu bisa memahami bagaimana perasaannya Adi, tidak asal bicara. Prast masih tidak bergeming. Menatapnya sekilas pun tidak ia lakukan. Dan itu sungguh membuat Sheila merasa tertekan. Prast tersenyum getir. Ia menghentikan aktivitasnya memainkan drum.
“Kau mengkhawatirkan perasaannya? Lalu bagaimana dengan perasaanku Shei? Pernahkah kau memikirkannya sedikit saja?” tuntut Prast membuat Sheila tak mampu mengatakan sepatah kata pun. Sheila menarik nafas perlahan. Seharusnya Prast bisa memahami posisinya bukan malah menyudutkannya. Namun apa yang dilakukannya?
“Kau tak bisa begitu saja menjadikanku sebagai
sampah. Saat merasa bimbang kau bisa membuangku, tapi begitu kau inginkan kau coba untuk meraihnya lagi!”
Sheila tak mampu menahan beban di hatinya selama tiga bulan ini. Hingga tercurahlah kata-kata itu. Kata-kata yang selama ini tak pernah ingin ia
sampaikan pada Prast. Sheila beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar ruangan.
“Aku tak pernah menjadikanmu sampah di hatiku,” ucap Prast membuat langkah Sheila terhenti. Ucapan itu begitu lirih, namun Sheila mampu mendengarnya. Prast merasa semakin terluka, saat tanpa bicara Sheila kembali meneruskan langkahnya, meninggalkannya dalam kebimbangan.
Sheila merasa gelisah sekali malam ini, dan itu
karena semua kata-kata Prast padanya tadi siang.
Prast telah berubah, sama sekali berubah!. Salahkah dirinya bila sekarang ini lebih mementingkan keberadaan Ardi daripada Prast? Salahkah dirinya, bila cinta itu datang begitu saja tanpa ia mampu mengelak?.
Prast berdiri tepat di depan Sheila. Sheila melihat
sekeliling ruangan. Ia memang paling belakangan
pulang saat bel sudah berbunyi 10 menit yang lalu.
“Kenapa? Kau takut Ardi memergoki kita?” sinis Prast memaksa Sheila menatap tajam cowok itu, tepat di retina matanya. Cinta itu masihkah memberi warna pada mata elangnya?
“Aku cuma tak ingin Ardi punya prasangka buruk
terhadap kita!” tukas Sheila cepat.
“Aku janji tak akan lama,” ucap Prast akhirnya.
Sheila kembali duduk di bangkunya.
“Seberapa jauh hubungan kalian tiga bulan ini?” tanya Prast menyelidik, membuat Sheila mengerutkan keningnya. Ia jadi bingung dengan pertanyaan Prast.
Pertanyaan itu seolah-olah Prast ingin menghakiminya.
“Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk mendekati Ardi? Membantunya untuk lepas dari drugs!”
“Tapi aku tidak menyuruhmu untuk jatuh cinta
padanya!” balas Prast sinis membuat Sheila terkejut dengan nada bicara Prast yang naik satu oktaf lebih tinggi. Dijawab juga percuma! Sheila meraih tasnya dan beranjak pergi. Tapi langkah itu terhenti seketika, saat sesosok tubuh atletis berdiri di ambang pintu dengan tatap penuh tanda tanya.
“Apa yang sebenarnya pernah terjadi di antara kalian? Tidakkah aku berhak mencari tahu?” tanya Ardi. Sheila membalikkan badannya menghadap Prast. Matanya penuh harap menatap Prast. Berharap Prast tidak mengatakan apa-apa pada Ardi, tentang apa yang terjadi di antara mereka.
“Prast, kau sahabatku dan Sheila adalah cintaku.
Kalian berdua punya kedudukan penting dalam
kehidupanku. Aku menyayangi kalian,” Ardi masih
mencoba mencari tahu. Tanpa kata Prast beranjak
meninggalkan ruangan tanpa memedulikan pertanyaan yang dilontarkan Ardi. Ardi menatap punggung Prast dengan tanda tanya di hatinya. Kini tatapnya berganti ke arah Sheila. Gadis itu hanya mampu menunduk tanpa mengatakan apa-apa.
“Tolong jangan tatap aku seperti itu Di. Aku tahu aku salah. Jangan membuatku semakin merasa bersalah,” ucap Sheila getir.
Jangan pernah melepaskan orang yang telah membawa perubahan besar dalam hidupmu dan kau tahu Shei? Kaulah orang itu, kaulah dewi itu. Dan aku takkan pernah melepasmu. Setetes airmata membasahi kedua pipi Sheila saat mengingat ucapan Ardi 3 bulan yang lalu. Saat itu Ardi baru saja sembuh dari ketergantungannya pada drugs. Lima bulan yang lalu Ardi benar-benar sosok yang rapuh. Dan suatu hari Prast memintanya untuk mendekati Ardi, memberi perhatian dan kasih sayang. Tapi dalam usaha menjauhkan Adi dari drugs tidak disangka cinta akan datang menyusup di hatinya.
Padahal saat itu dia sedang menjalin cinta dengan
Prast. Memang hubungannya dengan Prast, tidak ada satu pun teman mereka yang tahu. Awal mula Prast memintanya untuk mendekati Ardi, Sheila sempat menolak. Tapi Prast terus memaksa dengan alasan Ardi sahabatnya dan ia tidak ingin Ardi semakin terjerumus. Dengan keyakinannya, Prast memastikan Ardi pasti akan meninggalkan drugs setelah mendapat perhatian yang tulus dari Sheila. Dan Prast memang benar, Ardi berhasil meninggalkan dunia drugs dan cintanya pada Sheila yang jadi pemacunya. Kalau mau jujur, pesona Ardi memang mampu membuat cinta Sheila
berpaling dari Prast. Dan salahkah dirinya bila
cintanya pada Prast sudah luntur saat dia memutuskan untuk mendampingi Ardi?
“Ardi kenapa kau lakukan ini?” Sheila masih mencoba mencari tahu. Ardi tersenyum getir, menatap gadis yang kini duduk di sampingnya. Betapa berat melepas gadis itu, bagaimanapun juga Sheila sangat berarti dalam kehidupannya. Gadis itu membawa perubahan besar dalam hidupnya. Dan kini haruskah ia lepas? Dia memang salah memasuki ruang di antara mereka berdua. Dia menjadi penghalang bagi cinta Sheila dan Prast.
Sungguh Ardi takkan pernah sanggup, menjadi benalu pada pohon yang telah memberinya tempat untuk hidup. Dan dia telah memutuskan untuk pergi dari sisi Sheila, walaupun itu akan terasa pahit bagi hati dan pikirannya.
Tapi harus bagaimana lagi? Ia tak ingin melukai
perasaan Prast, walaupun besar rasa cintanya pada Sheila.
“Ini nggak adil! Aku tulus mencintaimu! Memang aku pernah punya kenangan dengan Prast. Tapi itu sudah menjadi bagian dari masa lalu!” tegas Sheila memberi keyakinan.
“Benarkah? Lalu apakah aku pantas disebut sebagai sahabat? Bahagia dengan cintaku, sementara hati sahabatku terluka? Apa kata orang nanti?” ucap Ardi tapi hanya dalam hati. Ia tidak ingin semakin melukai Sheila. Walaupun hatinya sekarang ini benar-benar terpuruk.
Kini Ardi telah meninggalkan mereka berdua menempuh jalannya sendiri. Tapi mengapa Sheila belum mampu melupakan Ardi? Dan Prast tak pernah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang menyelubungi hatinya.
“Tidak bisakah kita renda kembali tali kasih kita?”
tanya Prast penuh asa. Sheila menggeleng lemah.
Perlahan kepalanya terangkat dan matanya menatap Prast pedih.
“Aku tak bisa lagi mencintaimu. Cinta itu entah kapan telah berlalu dari hatiku.”
“Tapi kalian juga tak mungkin bersama lagi! Ardi
telah meninggalkanmu, tidakkah itu cukup sebagai
alasan agar kau melupakan dia?”
“Tidak peduli dia ada di mana, aku akan tetap
menunggunya. Aku yakin dia akan berlabuh di hatiku.”
Pedih! Itu yang dirasakan Prast saat dengan tegas
Sheila mengucapkan semua itu. Jika memang itu
keputusan Sheila, berhakkah dia melarangnya?
Cinta datang tanpa diminta pergi pun tanpa kita tahu. Walau jalan cinta penuh dengan kerikil-kerikil tajam, tapi banyak yang berhasil melaluinya. Dan Prast punya harapan yang begitu besar. Berharap suatu saat nanti, Sheila mampu menghilangkan kerikil-kerikil tajam itu untuk mendapatkan cinta sejatinya.
Judul Cerpen : Kerikil-kerikil Cinta
Pengrang : Muktiar Selawati
Sumber : www.anekayess-online.com
Tanggal : 26 November 2009
Jumlah Kata yang Salah : 0 (Tidak Ada)
Sheila dan Ardi tertegun di depan pintu, saat tiba-tiba saja seisi ruangan menghentikan aktivitasnya main band dan menatap tajam ke arah mereka berdua. Dengan kikuk Sheila mencoba tersenyum
dan segera duduk di kursi yang tersedia di sudut
ruangan. Adi langsung mengambil gitar yang tergeletak di samping Citra.
“Kenapa berhenti? Kalian marah karena aku datang
terlambat? Kita bisa mulai lagi kan?”
Ardi mulai memetik gitar dan memainkan intro sebuah lagu. Saat sadar teman-teman yang lain tidak mengimbangi permainannya. Ardi hanya tersenyum kecil. Ia paham mereka pasti kecewa karena dia datang terlambat.
“Dua jam tidak bisa dikatakan terlambat lagi. Aku
kecewa padamu. Demi seorang cewek kau mengorbankan waktu latihan kita! Sejak bersama Sheila kau mengesampingkan grup band kita. Dan kau seenaknya saja bilang terlambat!” celetuk Prast panjang lebar dengan nada sinis.
Sheila terkejut mendengar ucapan Prast yang tidak ia sangka. Aris, Citra, dan Agus yang berada di ruangan itu juga tampak terkejut mendengarnya. Muka Ardi merah padam, sedetik kemudian ia meletakkan gitarnya dan meninggalkan studio latihan. Anak-anak yang lain segera keluar menyusul. Sheila masih terpaku di tempatnya.
Prast terlihat memainkan stick drum-nya tanpa
ekspresi sedikit pun. Seolah-olah apa yang baru saja dikatakannya, sama sekali tidak membuat telinga merah. Sheila merasa kecewa sekali dengan ucapan Prast tadi. Tidak seharusnya Prast mempermalukan Ardi di hadapan anak-anak. Seharusnya cowok itu bisa memahami bagaimana perasaannya Adi, tidak asal bicara. Prast masih tidak bergeming. Menatapnya sekilas pun tidak ia lakukan. Dan itu sungguh membuat Sheila merasa tertekan. Prast tersenyum getir. Ia menghentikan aktivitasnya memainkan drum.
“Kau mengkhawatirkan perasaannya? Lalu bagaimana dengan perasaanku Shei? Pernahkah kau memikirkannya sedikit saja?” tuntut Prast membuat Sheila tak mampu mengatakan sepatah kata pun. Sheila menarik nafas perlahan. Seharusnya Prast bisa memahami posisinya bukan malah menyudutkannya. Namun apa yang dilakukannya?
“Kau tak bisa begitu saja menjadikanku sebagai
sampah. Saat merasa bimbang kau bisa membuangku, tapi begitu kau inginkan kau coba untuk meraihnya lagi!”
Sheila tak mampu menahan beban di hatinya selama tiga bulan ini. Hingga tercurahlah kata-kata itu. Kata-kata yang selama ini tak pernah ingin ia
sampaikan pada Prast. Sheila beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar ruangan.
“Aku tak pernah menjadikanmu sampah di hatiku,” ucap Prast membuat langkah Sheila terhenti. Ucapan itu begitu lirih, namun Sheila mampu mendengarnya. Prast merasa semakin terluka, saat tanpa bicara Sheila kembali meneruskan langkahnya, meninggalkannya dalam kebimbangan.
Sheila merasa gelisah sekali malam ini, dan itu
karena semua kata-kata Prast padanya tadi siang.
Prast telah berubah, sama sekali berubah!. Salahkah dirinya bila sekarang ini lebih mementingkan keberadaan Ardi daripada Prast? Salahkah dirinya, bila cinta itu datang begitu saja tanpa ia mampu mengelak?.
Prast berdiri tepat di depan Sheila. Sheila melihat
sekeliling ruangan. Ia memang paling belakangan
pulang saat bel sudah berbunyi 10 menit yang lalu.
“Kenapa? Kau takut Ardi memergoki kita?” sinis Prast memaksa Sheila menatap tajam cowok itu, tepat di retina matanya. Cinta itu masihkah memberi warna pada mata elangnya?
“Aku cuma tak ingin Ardi punya prasangka buruk
terhadap kita!” tukas Sheila cepat.
“Aku janji tak akan lama,” ucap Prast akhirnya.
Sheila kembali duduk di bangkunya.
“Seberapa jauh hubungan kalian tiga bulan ini?” tanya Prast menyelidik, membuat Sheila mengerutkan keningnya. Ia jadi bingung dengan pertanyaan Prast.
Pertanyaan itu seolah-olah Prast ingin menghakiminya.
“Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk mendekati Ardi? Membantunya untuk lepas dari drugs!”
“Tapi aku tidak menyuruhmu untuk jatuh cinta
padanya!” balas Prast sinis membuat Sheila terkejut dengan nada bicara Prast yang naik satu oktaf lebih tinggi. Dijawab juga percuma! Sheila meraih tasnya dan beranjak pergi. Tapi langkah itu terhenti seketika, saat sesosok tubuh atletis berdiri di ambang pintu dengan tatap penuh tanda tanya.
“Apa yang sebenarnya pernah terjadi di antara kalian? Tidakkah aku berhak mencari tahu?” tanya Ardi. Sheila membalikkan badannya menghadap Prast. Matanya penuh harap menatap Prast. Berharap Prast tidak mengatakan apa-apa pada Ardi, tentang apa yang terjadi di antara mereka.
“Prast, kau sahabatku dan Sheila adalah cintaku.
Kalian berdua punya kedudukan penting dalam
kehidupanku. Aku menyayangi kalian,” Ardi masih
mencoba mencari tahu. Tanpa kata Prast beranjak
meninggalkan ruangan tanpa memedulikan pertanyaan yang dilontarkan Ardi. Ardi menatap punggung Prast dengan tanda tanya di hatinya. Kini tatapnya berganti ke arah Sheila. Gadis itu hanya mampu menunduk tanpa mengatakan apa-apa.
“Tolong jangan tatap aku seperti itu Di. Aku tahu aku salah. Jangan membuatku semakin merasa bersalah,” ucap Sheila getir.
Jangan pernah melepaskan orang yang telah membawa perubahan besar dalam hidupmu dan kau tahu Shei? Kaulah orang itu, kaulah dewi itu. Dan aku takkan pernah melepasmu. Setetes airmata membasahi kedua pipi Sheila saat mengingat ucapan Ardi 3 bulan yang lalu. Saat itu Ardi baru saja sembuh dari ketergantungannya pada drugs. Lima bulan yang lalu Ardi benar-benar sosok yang rapuh. Dan suatu hari Prast memintanya untuk mendekati Ardi, memberi perhatian dan kasih sayang. Tapi dalam usaha menjauhkan Adi dari drugs tidak disangka cinta akan datang menyusup di hatinya.
Padahal saat itu dia sedang menjalin cinta dengan
Prast. Memang hubungannya dengan Prast, tidak ada satu pun teman mereka yang tahu. Awal mula Prast memintanya untuk mendekati Ardi, Sheila sempat menolak. Tapi Prast terus memaksa dengan alasan Ardi sahabatnya dan ia tidak ingin Ardi semakin terjerumus. Dengan keyakinannya, Prast memastikan Ardi pasti akan meninggalkan drugs setelah mendapat perhatian yang tulus dari Sheila. Dan Prast memang benar, Ardi berhasil meninggalkan dunia drugs dan cintanya pada Sheila yang jadi pemacunya. Kalau mau jujur, pesona Ardi memang mampu membuat cinta Sheila
berpaling dari Prast. Dan salahkah dirinya bila
cintanya pada Prast sudah luntur saat dia memutuskan untuk mendampingi Ardi?
“Ardi kenapa kau lakukan ini?” Sheila masih mencoba mencari tahu. Ardi tersenyum getir, menatap gadis yang kini duduk di sampingnya. Betapa berat melepas gadis itu, bagaimanapun juga Sheila sangat berarti dalam kehidupannya. Gadis itu membawa perubahan besar dalam hidupnya. Dan kini haruskah ia lepas? Dia memang salah memasuki ruang di antara mereka berdua. Dia menjadi penghalang bagi cinta Sheila dan Prast.
Sungguh Ardi takkan pernah sanggup, menjadi benalu pada pohon yang telah memberinya tempat untuk hidup. Dan dia telah memutuskan untuk pergi dari sisi Sheila, walaupun itu akan terasa pahit bagi hati dan pikirannya.
Tapi harus bagaimana lagi? Ia tak ingin melukai
perasaan Prast, walaupun besar rasa cintanya pada Sheila.
“Ini nggak adil! Aku tulus mencintaimu! Memang aku pernah punya kenangan dengan Prast. Tapi itu sudah menjadi bagian dari masa lalu!” tegas Sheila memberi keyakinan.
“Benarkah? Lalu apakah aku pantas disebut sebagai sahabat? Bahagia dengan cintaku, sementara hati sahabatku terluka? Apa kata orang nanti?” ucap Ardi tapi hanya dalam hati. Ia tidak ingin semakin melukai Sheila. Walaupun hatinya sekarang ini benar-benar terpuruk.
Kini Ardi telah meninggalkan mereka berdua menempuh jalannya sendiri. Tapi mengapa Sheila belum mampu melupakan Ardi? Dan Prast tak pernah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang menyelubungi hatinya.
“Tidak bisakah kita renda kembali tali kasih kita?”
tanya Prast penuh asa. Sheila menggeleng lemah.
Perlahan kepalanya terangkat dan matanya menatap Prast pedih.
“Aku tak bisa lagi mencintaimu. Cinta itu entah kapan telah berlalu dari hatiku.”
“Tapi kalian juga tak mungkin bersama lagi! Ardi
telah meninggalkanmu, tidakkah itu cukup sebagai
alasan agar kau melupakan dia?”
“Tidak peduli dia ada di mana, aku akan tetap
menunggunya. Aku yakin dia akan berlabuh di hatiku.”
Pedih! Itu yang dirasakan Prast saat dengan tegas
Sheila mengucapkan semua itu. Jika memang itu
keputusan Sheila, berhakkah dia melarangnya?
Cinta datang tanpa diminta pergi pun tanpa kita tahu. Walau jalan cinta penuh dengan kerikil-kerikil tajam, tapi banyak yang berhasil melaluinya. Dan Prast punya harapan yang begitu besar. Berharap suatu saat nanti, Sheila mampu menghilangkan kerikil-kerikil tajam itu untuk mendapatkan cinta sejatinya.
Judul Cerpen : Kerikil-kerikil Cinta
Pengrang : Muktiar Selawati
Sumber : www.anekayess-online.com
Tanggal : 26 November 2009
Jumlah Kata yang Salah : 0 (Tidak Ada)
Kalimat Benar tetapi Tidak Baik
- Presiden menemui calon menteri.
- Alexander Grahambell menemukan telepon.
- Rumput makan Kambing.
- Toni membawa mobil ke Kampus.
- Angkutan Umum menaiki penumpang.
- Alexander Grahambell menemukan telepon.
- Rumput makan Kambing.
- Toni membawa mobil ke Kampus.
- Angkutan Umum menaiki penumpang.
Kalimat Baik dan Benar
- Ibu sedang memasak di dapur.
- Budi memakai sepatu berwarna putih.
- Anto mengendarai mobil.
- Toni memperbaiki kendaraannya.
- Presiden mewawancarai calon menteri.
- Budi memakai sepatu berwarna putih.
- Anto mengendarai mobil.
- Toni memperbaiki kendaraannya.
- Presiden mewawancarai calon menteri.
Langganan:
Postingan (Atom)